Review : Gentle Birth (Persalinan Nyaman untuk Menyambut Seruni)

Lanjutan dari Review : Persiapan Gentle Birth (Persalinan Nyaman untuk Menyambut Seruni)



Alhamdulillah kehamilan pertama saya ini saya tidak merasakan morning sickness sama sekali, nafsu makan saya juga biasa saja seperti sedia kala tidak berlebihan. Jadi semua kegiatan rutin saya masih lancar aman terkendali saya lalui termasuk puasa ramadhan, naik turun tangga kantor tiap hari (ruangan kerja saya ada di lantai 2) dan tugas perjalanan dinas luar kota berkali-kali ke Jakarta menggunakan pesawat maupun kereta api, semua terasa lancar dan menyenangkan termasuk keliling belanja baju ke tanah abang dan thamrin (mungkin membuat beberapa orang ngeri melihat saya masih mondar mandir dengan perut buncit ^^) yang pasti 9 bulan ini saya lalui dengan banyak kegiatan travelling, jadi kalau misal nanti anak saya doyan jalan gak perlu heran :P

Awalnya saya merencanakan jauh-jauh hari akan melahirkan di rumah kakak kandung saya yang juga seorang bidan di Jember. Hingga bulan ke-6-7 saya masih kekeuh ingin melahirkan di Jember yang jarak dari jogja sekitar 13 jam perjalanan darat. Keluarga besar saya masih cukup intens merayu saya untuk merubah rencana untuk melahirkan di Malang saja sedang suami memberi kebebasan pada saya meski saya tahu dalam hatinya dia agak keberatan dengan jarak jauh yang harus kami tempuh nanti sangat riskan untuk membawa bayi kecil kembali ke Jogja.

Di bulan ke-7 saya mulai memikirkan tentang proses menyusui yang akan saya jalani nanti setelah melahirkan nanti, setelah melalui proses pimikiran panjang "bagaimana saya harus menyimpan asip dan membawanya ke jogja. Dan ternyata kegalauan saya terjawab dengan referensi Klinik Ibu Alam di Salatiga yang dimotori oleh bidan cantik bernama bu Prita. Perkenalan pertama saya dengan bu Prita hanya berupa WA singkat janjian untuk datang ke klinik ibu alam di hari kerja saya ijin lebih awal untuk pergi ke Salatiga.

Ditemani my BFF caesar (ucil) dan baby ara saya melakukan ANC pertama kali ke bu prita, saya di USG dan sharing beberapa hal tentang persalinan nyaman yang saya kehendaki, dan yupp saya mantap menjatuhkan pilihan pertama di Salatiga, dengan plan-plan cadangan lain termasuk rumah sakit plan saya ada di Ken Saras meski masuk wilayah Kab. Semarang tapi masih terjangkau jaraknya dan untuk plan emergency saya memilih RSB Mutiara Bunda seperti saran bu Prita (jadi persiapan-persiapan cadangan ini juga sangat penting karena ketika keadaan sudah mendesak biasanya kita cenderung blank dan kekurangan waktu untuk menimbang dan usahakan orang terdekat mengetahui rencana cadangan ini).

Disana bu Prita juga bercerita bahwa persalinan dilihat dari kacamata medis kebanyakan memang dipandang sebagai suatu situasi gawat darurat yang membutuhkan intervensi medis secara maksimal, padahal dalam kondisi normal ibu dan bayi bisa melaluinya dengan tetap nyaman minim intervensi. Di sana saya juga diperkenalkan dengan konsep persalinan maryam, yang merujuk pada proses persalinan nabi Isa AS, dimana waktu itu ibunda Maryam melahirkan sendiri ditemani para malaikat bersandar pada pohon kurma, dan yang ajaib adalah ibunda Maryam-pun memberdayakan dirinya dengan bergerak menggoyang pohon kurma dimana ini tidak mungkin terjadi jika posisi persalinannya adalah terlentang, seperti kebanyakan prosedur persalinan biasanya.

Karena saya tidak bisa mengikuti jadwal Yoga di klinik Ibu Alam karena saya masih stay di Jogja maka saya mendapat referensi seorang doula yang membuka kelas yoga juga di jogja bernama mbak arifatun. Kelas yoga ada di sebuah studio senam daerah Sleman dekat dengan rumah saya. Beberapa hari sebelumnya saya periksa ke dokter keluarga dan bidan BPJS dan dinyatakan posisi bayi saya oblique alias miring diagonal. Bu prita menyarankan rajin-rajin Open knee chest position (posisi sujud tp bahu direndahkan hingga menyentuh lantai) dan rebozo (menggoyang pinggul dengan selendang/scraf dengan bantuan orang lain).

Tibalah saat cuti saya, disi dengan makan-makan, jalan-jalan dan blanja keperluan debay, plus perjalanan panjang Jogja-surabaya-malang-jogja-salatiga-jogja-surabaya-malang-solo-jogja yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya. Alhamdulillah ini debay asik banget diajak jalan-jalan. Keluhan paling sering adalah nyeri di tulang ekor jadi biasanya saya bawa bantal kecil buat tambahan alas duduk di kereta ataupun mobil, tentu saja gymball selalu ikut serta kemanapun saya pergi beserta pompanya :D

Akhir cerita dari postingan cuti saya adalah ketika nenek saya meninggal kemudian saya kembali ke jogja bersama arief. Sebenernya versi dokter pertama itu sudah memasuki minggu persalinan saya tapi cuek saja karena feeling saya "ahh paling juga molor ..." pengalaman persalinan kakak saya kedua anaknya molor lebih dari 2 minggu. Kami kembali ke Jogja dengan mengendarai mobil Panther sakti milik ayahanda. Berangkat setelah sholat subuh, Arief mengendarai dengan batas kecepatan aman, mendekati Mojokerto perut terasa sedikit tekanan akhirnya saya memilih pindah ke bangku tengah agar bisa selonjoran sambil ngemil kerupuk pasir. Sampai di Solo kami sempat mampir makan siang, sholat dan ketemu dengan penjual mobil yang belum jadi jodoh kami. Saat sholat pun perut terasa agak kencang-kencang tapi saya cuekin aja.

Pukul 16.30 kami memasuki kota jogja mulai terasa agak basah di celana dalam, tapi saya kira paling hanya "keputihan" biasa saja tanpa mengabari Arief. Saya pun menyanggupi untuk mengambil sepeda motor sendirian di stasiun. Jadi Arief menurunkan saya di stasiun dan saya mengendarai sepeda motor sendirian ke rumah.

Ditengah perjalanan perut terasa agak mules-mules seperti nyeri haid biasa, dan saya anggap mungkin saya hanya agak kelelahan saja, masih sempat mampir indomar*t untuk beli sari jahe. Sampai di rumah arief menurunkan barang-barang dari mobil dan saya beres-beres rumah sedikit. Kemudian saya ke kamar mandi untuk segera wudhu dan sholat. Dan ternyata sudah ada flek darah di celana dalam saya, take a deep breath ….. woshaaaa … tenang dan semua akan baik-baik saja. Saya bersih-bersih badan kemudian sholat, setelah itu baru memberi tahu Arief “kamu capek gak kalau kita ke Salatiga sekarang?” “emang kenapa?” “Kayaknya adek udah mau keluar sekarang deh … udah ada flek dan lendir” seketika air mukanya dia berubah tapi saya ingatkan kembali “gak papa, gak usah panik, aku baik-baik aja kok” saya ajak menarik nafas panjang dan membaca bismillah ... kemudian barang-barang yg semula turun dari mobil segera diangkut lagi, baju-baju bayi lungsuran dari kakak saya, dan segala rupa entah apa isi dari tas bayi itu, box bayi, dll.

Saya menelpon kakak saya untuk mengabari tapi tidak ke orang tua saya, karena khawatir mereka panik. Kakak saya ternyata panik juga dan melarang saya pergi ke salatiga, sebaiknya saya mencari tenaga kesehatan terdekat, untuk sekedar VT (vagina toucher) memastikan. Tapi saya masih agak khawatir dengan VT karena ada pengalaman teman saya yang akibat VT malah jadi KPD (ketuban pecah dini), maju mundur ... kalau saya periksa ke bidan/dokter sini pasti saya dilarang melakukan perjalanan ke salatiga. Akhirnya saya menelpon bidan Prita dan disarankan untuk tetap tenang, take a deep breath ... silahkan mengikuti birth plan saya, jika ingin melahirkan di salatiga beliau siap 24 jam, dan untuk antisipasi persalinan di jalan saya disuruh menyiapkan 2 handuk besar, air bersih beberapa liter, dan beliau siap memandu via telpon (tapi doa kami semoga ini tidak terjadi) tapi seperti bu prita bilang "kita tidak pernah tahu adek bayi ingin lahir dimana dan kapan"

Saya masih sempat memberikan oleh-oleh dulu ke ibu tetangga depan rumah, kemudian kami berangkat dengan tujuan pertama adalah membeli sari kurma untuk bekal persalinan nanti di jl monjali seharga 45rb sebotol. Bapak penjual sempat menanyakan "mau buat apa mbak?" saya jawab untuk persiapan persalinan kemudian beliau menambahkan bonus sari jahe merah dan susu jahe sebagai bonus (terima kasih bapak). Saya standby dengan handphone ditangan untuk membuka aplikasi My Pregnancy & Baby Today yang sangat lengkap dan cukup membantu perjalanan kehamilan saya, bahkan terdapat contraction timer yang sangat saya butuhkan saat itu. Braxton Hicks bisa saja terjadi jadi saya memastikan ritme kontraksi dengan timer ini. Seperti pesan bu prita pada kontrol terakhir saya tentang tanda-tanda persalinan jika ritme kontraksi sudah tetap dan jedanya sudah rapat maka bisa dibilang itu bukan lagi Braxton Hicks (kontraksi palsu). Suami masih terlihat sedikit tegang namun berusaha relaks dengan menanyakan "makan malam dulu yuuuk .... kamu pingin maem apa?" wawasan kuliner saya saat itu mendadak blank ... tiba-tiba saya ingin nasi goreng babat iso di depan Universitas Sanata Darma, dan kesanalah kami menuju.

Aroma nasi goreng babat memenuhi tenda kaki lima, saya dan arief masih mengobrol santai dan bercanda. Kami juga sepakat untuk tidak mengabari siapa-siapa dulu agar kami berdua lebih santai dan bisa fokus pada diri kami sendiri dulu. Setelah suapan kesekian perut saya mendadak mulas lagi, saya paksa menyuap kemudian mulas lagi, akhirnya sisa nasi goreng berpindah ke perut arief. Saat itu kontraksi datang masih agak lemah sehingga dengan jeda sekitar 30-45 menit. Dengan membaca basmallah kami berangkat ke salatiga, dan arief meminta saya untuk tiduran di jok tengah saja agar bisa beristirahat. Hingga memasuki klaten mata saya masih terjaga, kemudian saya tertidur. Sampai di depan klinik ibu alam arief membangunkan saya. Saya menelpon bu prita beberapa kali namun tidak diangkat, waktu itu jam sudah menunjukan pukul 22.00 WIB kesekian kali saya menelpon akhirnya diangkat oleh suami beliau yang akhirnya membukakan kami pintu gerbang dan membangunkan bidan Nina yang saat itu bertugas di klinik. Mbak Nina menanyakan jeda kontraksi, dll kemudian meminta saya untuk berbaring, untuk melakukan VT. Saya sempat gugup, tapi mbak Nina menenangkan saya kemudian baru VT, ternyata tidak sesakit yang saya bayangkan atau orang lain pernah bercerita pada saya, rasanya?? biasa saja, hehehe. Menurut mbak Nina masih bukaan 1 fase laten, jadi masih bisa besok atau lusa, dan kami memutuskan pulang ke rumah mertua.

Sesampai di rumah mertua, ibu cukup kaget karena kami tidak mengabari akan kesana, sepintas hanya kami jawab "iya, besok mau cek ke bu bidan lagi" Arief hanya menurunkan beberapa tas baju kami dan bola ajaib saya langsung dia pompa kembali, setelah sholat isya dia mengelus punggung saya sebentar kemudian tertidur pulas karena lelah menyetir seharian, saya masih terjaga sebentar berdoa kemudian tertidur sambil memegang hp untuk mengecek jeda kontraksi.

Pukul 01.00 dini hari rasa mulas membangunkan saya, saya menuju kamar mandi ternyata lendir dan darah lagi, saya mengganti pantyliner saya setiap satu jam. Saat kontraksi mulai terasa menguat sontak reflek saya panik, dan mulai mengasihani diri saya sendiri "kok gini sih rasanya? aku gak mau sakit kayak gini ... aku mau istirahat, aku mau tidur dulu ...aku capek habis dari perjalanan panjang" dan kemudian kontraksipun berhenti lama.
Akhirnya saya ambil air wudhu dan bersholat hajat, saya ajak bicara debay kemudian membalas chat dari teman kuliah yang menawarkan saya side job untuk mengisi suara pada aplikasi yang sedang dia bikin, kami mengobrol cukup banyak dan dia baru sadar kalau saya sedang menunggu detik-detik persalinan satu jam kemudian :D setelah suasana hati saya cukup relaks saya dengarkan kembali audio afirmasi dari bidan yessi yang sudah saya simpan dalam hp. Disitu saya mencoba ikhlas ... dan menerima semuanya, memahami bahwa kontraksi itu baik dan tidak akan melawannya. Semakin sakit itu semakin baik karena tandanya persalinan semakin dekat, dan saya hanya cukup menerimanya dengan mengatur nafas.

Sesekali saya tertidur antara 5-10 menit hingga azan subuh. Setelah sholat subuh saya memeluk Arief, dia mengajak saya jalan-jalan pagi untuk mengalihkan perhatian, dan agar ibu dan bapak tidak menyadari jika saya sudah menuju proses persalinan. Kami berjalan berkeliling komplek sambil sesekali saya berhenti dan menggenggam tangan arief erat jika kontraksi datang. Saya sempat ngobrol sebentar dengan bapak, ibu dan penjual sayur tentang menu kami hari itu. Namun kontraksi datang semakin intens, dan kontraksi sudah menuju per 7-10 menit dan saya merasa tidak sanggup untuk menempuh perjalanan ke klinik jika kontraksi semakin intens. Maka Arief menawari untuk pergi ke klinik sambil mengantar ibu bekerja, dan saya meng"iya"kan.

Di dalam mobil ibu masih bercerita ini itu dan saya di jok belakang mulai pucat, dan mengatur nafas berat. Kemudian ada teman ibu sekantor yang berangkat bareng sekalian, duduk berselahan dengan saya "lho sudah besar ya ... kapan ini HPLnya?" saya cuman meringis menahan sakit "lho ... jangan-jangan ini sudah mau" saya cuman mengangguk sedikit sambil meringis, ibu yang semula masih santai bercerita ini itu mendadak kaget "lho kok ora ngomong tho?? piye iki aku pas ono gawean di kantor" *silahkan cari translator bahasa jawa :P

Singkat cerita setelah mengantar ibu saya sampai di klinik Ibu Alam, di sana saya bertemu bidan Prita dan bidan Nina ditanyai frekwensi kontraksi, kemudian di VT lagi, dan tetap tidak terasa menyakitkan, ternyata bukaan 3-4. Bidan Prita masih membolehkan saya pulang lagi, tapi saya menolak. Menurut beliau perkiraan sore ini atau malam baru lahir. Jreeeeng ... oke oke ... apapunlah saya terima dengan ikhlas. Yang mana belakangan saya tahu ternyata bu Prita sengaja memprediksi waktu terpanjang agar saya tidak terpancang pada perkiraan waktu yang malah mempengaruhi hormon adrenalin saya muncul karena tidak relaks.
QS. An Nahl (di klinik Ibu Alam)
Bu Prita berpamitan meninggalkan kami untuk melakukan tugas hariannya di Puskesmas, sedang saya di klinik Ibu Alam didampingi bidan Nina dan 2 orang mahasiswa kebidanan yang sedang praktik. Disana saya diantar menuju kamar kami, di Ibu alam tersedia 2 kamar tunggu dan satu ruang bersalin lengkap dengan bathup, dll. Setelah menurunkan beberapa barang, bidan Nina memberikan saya saran "Ibu pingin lahiran cepet apa lama? kalau mau cepet mau saya kasih saran gak??" kami pun mengangguk penuh semangat ... "Jangan ditunggu sambil tiduran, kalau mau jalan-jalan aja bu ... nanti kalau sudah gak kuaaaaat banget baru balik kesini".
Kamar Pasien
Kamipun memutuskan untuk berjalan-jalan sepanjang jalan Mangunsari, udara disana sangat sejuk ... sesuai yang saya impikan, saya ingin melahirkan di daerah dengan udara segar dan sejuk (seperti di Ubud misalnya :P) Sepanjang jalan rindang ditumbuhi pepohonan, beberapa penduduk setempat menyapa kami. Saya menggandeng tangan Arief sepanjang jalan, membicarakan hal-hal remeh temeh, dari mengomentari penjual sayur yang menggunakan mobil baru, ibu-ibu yang sedang lewat, dll. Sepanjang jalan ketika kontraksi datang saya genggam tangan Arief kuat-kuat, mungkin juga saya remas, hahaha namun saya tetap berusaha fokus ke aliran nafas perut saya (dalam yoga yang saya pelajari, pernafasan yang dibutuhkan adalah pernafasan perut, bukan pernafasan dada). Sekitar 2km kami berjalan kontraksi yang datang mulai intens dan saya sedikit kewalahan, beberapa kali saya peluk Arief kuat-kuat sambil berusaha fokus tetap ikhlas tidak melawan rasa sakit yang datang, orang-orang lalu lalang sambil melihat kami berdua keheranan dan kami putuskan kembali ke Ibu Alam.

Sesampai di Ibu Alam, bidan Nina mengajarkan Arief beberapa pijatan untuk mengendurkan otot pinggang saat kontraksi datang, dan saya dipersilahkan menuju ruang bersalin sambil berdiri memeluk Arif. Bidan Nina menyiapkan bath up untuk saya berendam dan menyiapkan wewangian aromatheraphy. Beberapa kali saya sempat lost konsentrasi nafas, dan meminta bidan Nina memijat pinggang saya, karena pijatan Arief kurang pas hahaha ... dengan sabar bidan Nina memijat sembari menawari gymball untuk saya duduk beristirahat. Karena saya belum sarapan, bidan Nina membawakan saya sarapan, tapi saya sudah tidak nafsu menelan apapun, akhirnya dia menyiapkan cairan madu dan sari kurma hangat untuk saya.
Kamar Bersalin
Setelah bath up siap, saya mengganti baju dengan kemben yang sudah disediakan, sempat saya panik karena ingin buang air kecil tapi takut malah gak bisa nahan "ngeden" akhirnya dengan beberapa petunjuk dari bidan Nina saya bisa juga buang air kecil :D *sepele tapi penting
Kemudian saya masuk ke dalam bath up hangat yang sudah disediakan. Sembari berendam memejamkan mata, mengatur nafas, membayangkan hal indah sesuai yang sudah saya pelajari. Beberapa kali saya lost control karena perasaan ingin mengejan tiba-tiba datang, bidan Nina selalu mengingatkan untung mengalihkan ke nafas, memberi afirmasi positif dan memberikan pijatan lembut. Setelah saya mencoba menguasai diri, ternyata perasaan ingin mengejan bisa saya alihkan ke nafas, dan ini adalah kelemahan saya. Arief setia di samping saya sembari memberikan afirmasi positif hingga terkadang suaranya cukup mengganggu. Setelah saya cukup bisa mengandalikan pikiran dan nafas, tiba-tiba saja saya merasa ada sesuatu yang keluar "pyukkk .." dan ternyata air ketuban saya pecah, awalnya menurut instruksi bidan Nina air ketuban sebaiknya dikeluarkan di atas saja, tidak waktu saya berendam, tapi karena keenakan di dalam air saya ogah naik :P
Karena ketuban sudah pecah terpaksa saya harus mau naik keatas kasur, karena di Ibu Alam konsepnya parsial water birth, jadi persalinan tetap di darat, air hanya untuk menyamankan dan membantu proses pembukaan.
Bath Up di Klinik Ibu Alam
Saya mengganti kemben saya dengan baju bersalin kalau gak salah ingat warna pink, di atas tempat tidur saya sempat ketiduran sebentar, sekitar 5-10 menit, disini kalau menurut bidan Prita karena hormon oksitoksin bekerja maksimal dan gentle birth saya dianggap berhasil. Bidan Prita datang setelah dihubungi bidan Nina, karena kemungkinan saya sudah hampir siap bersalin. Bu Prita bersiap-siap dan mengecek VT bukaan saya lengkap sembari mengingatkan untuk tetap istighfar, membaca surat maryam dan mengingatkan bahwa semua yang saya rasakan menjadi penggugur dosa saya. Kemudian memberi petunjuk nanti posisinya terserah aja, senyaman mungkin tapi kalau mau bisa miring dan tungkai kaki dipegang sendiri untuk meminimalisir sobekan perenium. Kemudian saya memiringkan badan ke kiri, kaki saya diganjal sebentar dengan bantuan gymball,

Saya yang semula clueless ... dan hanya bisa membaca "laa haulawala quwwata illa billah" berkali-kali, kemudian saya memejamkan mata mengucap dalam hati "Yaa Rabb jika ini menjadi kehendakMu, aku hambaMu yang lemah ini tidak tahu cara bersalin seperti yang dirasakan bunda Maryam dahulu, berikanlah sedikit mukjizatMu kepadaku" dan seperti yang pernah disarankan teman saya Chipenk, istighfar dan mohon ampunlah kepada Allah.
ketika kontraksi datang saya sudah siap sambil memegang lutut saya sendiri, sekitar 3x nafas dan perasaan ingin mengejan datang, katanya kepala sudah keluar, kemudian saya telentang dan tinggal bernafas seberti biasa badan si adek mungil pun meluncur "ceprut ... ceprut ..."
setelah dilap sedikit adek bayi langsung ditaruh di dada saya sambil menunggu ari-ari keluar. Sembari mengucap hamdalah berkali,kali dan Arief masih tersenyum penuh haru sambil mengusap mata dan menciumi kami berdua.
Inisiasi Menyusui Dini
Hamdalah tak henti-hentinya kami ucapkan, sambil mengelus kepala mungil adek yang tertidur di dada saya. Diantara suasana penuh cita dan euforia, sekali saya bernafas kemudian "prut-prut" air-ari pun keluar kemudian bu Prita menjahit luka sobekan saya yang katanya "tidak banyak, hanya jahitan dalam dengan 1 ikatan" dan memang saya merasa tidak sakit, hanya perih sesaat saja. Satu jam lamanya IMD si adek bayi tertidur di dada saya, Arief pun meng-adzani perlahan dan lirih di telinga adek. Kemudian bu Prita mempersilahkan Arief untuk memotong ari-ari adek, sesuai petunjuk dan memberinya nama sesuai rencana kami "Kembang Seruni".

Setelah satu jam, adek dibersihkan dan diberi baju, yang entah saya lupa baju adek saya simpan dimana, karena persiapan kami seadanya, tas-tas hanya kami lempar di jok belakang mobil. Kemudian saya telfon ayah saya yang hanya bisa menangis tersedu-sedu diseberang sana tanpa mengucap sepatah katapun kecuali "alhamdulillahi Robbilalamin"

Beberapa menit kemudian ibu dan bapak mertua saya datang. Saya memberi kabar ke kakak saya godzilla ndut, sambil berkali-kali bersyukur sembari memandang wajah mungil seruni, yang masih terlelap.

Saya bermalam disana hingga keesokan harinya, untuk memantau kondisi ibu dan bayi. Juga melatih saya untuk menyusui, sebagai tugas pertama saya sebagai ibu.

Banner di Ibu Alam
Jujur saya puas dengan pelayanan di Klinik Ibu Alam, berbanding dengan biaya yang harus saya keluarkan pun itu sangat memuaskan. Hanya beberapa kali saja Arief yang terlihat senewen karena ada kecoa lewat beberapa kali di tempat tidur kami. (tapi horor juga sih kalo tiba-tiba nyamperin seruni). Paket gentle birth yang saya ambil sudah termasuk 3x baby's massage ke rumah dan 2x home visit dari bu Prita (tapi yang kedua saya datang ke klinik sendiri karena buru-buru balik ke Jogja) dan juga Free Foto bayi.

Dari saya dan mengamati pengalaman teman dan saudara, pendamping persalinan itu memang kunci utama selain kesiapan diri sendiri. Karena terkadang kontrol kita bisa berantakan ketika suasana sekitar tidak mendukung atau memberi afirmasi negatif seperti contohnya berkali-kali mengucapkan kata "sakit" dll. Jadi bagi yang merencanakan persalinan nyaman silahkan cari pendamping persalinan ternyaman anda kemudian bagi pengetahuan tentang konsep persalinan yang diinginkan, sehingga tidak terjadi miss komunikasi dimasa-masa rawan emosi :D

Update :

info lanjutan dari klinik Ibu Alam


_XOXO_

Comments

  1. hai mba alice, salam kenal :)
    mau tanya2 ttg klinik ibu alam salatiga : fasilitas-pelayanan dan tentunya estimasi biaya hehehe. bisa japri mba?

    ReplyDelete
  2. Mbak, bisa minta tolong info ttg klinik ibu alam salatiga. Pelayanan dan biaya nya mbak? Bisa dikirimkan vie email ke elisabethdeta@gmail.com

    ReplyDelete
  3. Wah mbak, tertarik juga nih. Boleh dong mbak info nya di share di email aku mmoonnmonica@gmail.com terimakasiiih :)

    ReplyDelete
  4. Mbak Alice, mau juga dong mbak..
    Info tentang klinik Ibu Alam.
    Ini emailku zahramila1300@gmail.com

    ReplyDelete
  5. Mba boleh minta info klinik ibu alam?
    Ini email saya.. yiexsweetyred@gmail.com

    Makasih sebelumnya mba 😊

    ReplyDelete
  6. Hai mbak... setelah baca artikel nya mbak saya tertarik. Boleh minta info yg lebih tentang gentle birth dan info harganya? Tutinf8@gmail.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba saya jg minta d email dong.. dian.rakasiwi01@gmail.com

      Delete
  7. Mbak Elisa saya bisa minta info untuk studio senam nya Mbak arifatun? Terimakasih sebelumnya

    ReplyDelete
  8. Mbak Elisa saya bisa minta info untuk studio senam nya Mbak arifatun? Terimakasih sebelumnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai ... bisa kamu kasih alamat email? nanti saya kirim nomernya bidan arifatun. sorry for the late response

      Delete
    2. mbak saya juga minta info senam bidan arifatun ya... minta tolong email ke tsurayya.nilats@gmail.com

      Delete
    3. sudah saya kirim via email ya

      Delete
  9. Hai mbak, ak baru hamil muda nih dan pgn bgt kyk mbak gt melahirkan tpi rilex bgt. Kebetulan rumahku ambarawa, jdi dktlah klo ke sala3, tpi pgn tau, kira2 biayanya hbs brp y? Emaiku
    wika.ang05@gmail.com ato WA 085725958535

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa email saya di nurlailielisa@gmail.com, terima kasih

      Delete
  10. Mbak estimasi biaya persalinan di ibu alam Salatiga brp ??

    ReplyDelete
  11. Mbk mohon info biaya persalinan di ibu alam salatiga njih

    ReplyDelete

Post a comment

Popular posts from this blog

Review : MUA Khadijah Azzahra

Kehamilan ke-dua : Mengunjungi Rumah Bidan Rina di Malang

Birthing Ball / Gym Ball Untuk Ibu Hamil