Review : Persiapan Gentle Birth (Persalinan Nyaman untuk Menyambut Seruni)

Pertama kali saya mendengar istilah gentle birth itu dari teman dekat saya Caesar (ucil), dia hamil sebelum saya menikah. Beberapa kali kami bertukar pikiran tentang gentle birth. Dia memutuskan untuk mempelajari gentle birth dan mengambil kelas khusus di bidan Yessi Klaten, karena dari beberapa riwayat keluarga dan tinggi badannya banyak orang maupun provider persalinan meragukan dia bisa melahirkan normal. Namun sejak dia mengkuti kelas gentle birth, memberdayakan diri serta melakukan food combining dia percaya bisa melakukannya. Singkat cerita saya ingin melakukan persiapan yang sama jika suatu saat nanti saya hamil.
Keep Calm

Setahun kemudian saya menikah dan 3 bulan kemudian saya hamil, antara bahagia dan bingung karena saya belum merencanakan memiliki anak secepat itu, meski tidak ada niatan untuk menunda juga. Saya berencana untuk meminimalisir campur tangan dokter, saya berniat untuk memeriksakan diri ke bidan terdekat saja. Namun pada pemeriksaan pertama saya memilih dokter di RSIA yang lumayan terkenal di Jogja untuk memastikan kehamilan saya terlebih dahulu.

Antri cukup lama, meski sehari sebelumnya saya sudah booking nomer antrian. Masuk ruangan periksa saya ditanya kapan hari pertama haid terakhir, dll kemudian di usg dipastikan saya hamil hitungan 4 minggu, ditambah ada cyst (kista) yang mengintip disebelahnya. Setelah beberapa penjelasan dan kisaran ukuran Cyst yang ada pada saya sudah melebihi batas aman (diatas 5,5cm) jadi bu dokter menyarankan saya untuk bersiap-siap melakukan operasi di minggu ke 18 nanti setalah lebaran 2015. Ditanya perasaan?? ya pasti campur aduklah ... pulang dari RS saya dan Arief cuman bisa terdiam sambil masing-masing berdoa dalam hati. Keesokan harinya kami memutuskan untuk mencari opini kedua ke dokter lain, tanya kesana kemari kami memutuskan untuk mengunjungi dokter Rukmono yang pasti super kondang se Jogja dengan kemampuan baca usg yang sangat detail kami berharap akan terjadi keajaiban. Jarak sebulan dari pemeriksaan pertama kami mengunjungi dokter rukmono pertama kali dengan cara antrian seminggu sebelumnya dan telat 5 menit saya sudah mendapat nomer belasan diatas jam 10 malam, okey ... demi deh demi ...
Saat itu adalah malam bulan Ramadhan, dan dokter menyatakan saya tidak perlu mengambil tindakan atas cyst yang ada karena diameternya sudah berkurang menjadi 3,5cm, jadi bisa diobservasi sambil menunggu kelahiran. Alhamdulillah ...

Saya rutin periksa sebulan sekali dengan berjibaku antri gila-gilaan itu, sembari mengikuti beberapa kelas gentle birth, salah satunya yang diadakan bidan Yessi dan team yang diadakan di Jogja Village Inn. Disitu saya mendengar kisah VBAC (Persalinan per-vagina setelah persalinan SC) nya mbak Fonda, kemudian pengenalan hypnobirth oleh bu Lanny yang merupakan ibunda mbak Fonda, selanjutnya Gentle Birth oleh bu Yessi dan terakhir Yoga Prenatal Couple dengan suami. Sedikit banyak saya sudah membekali diri dengan bacaan-bacaan tentang gentle birth termasuk tukar pikiran dengan teman dan suami. Pada intinya suami saya mendukung pilihan saya untuk memilih melahirkan dengan kondisi ternyaman yang saya inginkan dengan beberapa tambahan opsi jika nantinya harus dilakukan tindakan intervensi medis lebih lanjut.

Saya memiliki beberapa opsi tempat melahirkan, dengan beberapa pertimbangan, karena pada intinya persalinan nyaman itu bisa dilakukan dimanapun entah normal ataupun akhirnya harus dilakukan tindakan SC asalkan kita sudah mempersiapkan semuanya dan melakukan sharing knowledge tentang konsep gentle birth ini kepada tenaga kesehatan yang akan mendampingi kita.

  1. Bumi Sehat, Ubud ini jadi cita-cita pertama saya sebelum mengenal lebih jauh tentang gentle birth. Saya beberapa kali membaca artikel tentang bidan Robin dan melihat beberapa ulasan tentang beliau. Tapi kendala paling utama adalah jelas ini jauh sekali, kami butuh biaya berlebih untuk bisa mempersiapkan persalinan di sana termasuk biaya tinggal sementara. dan kendala berikutnya kemungkinan besar keluarga kami akan sulit memberikan ijin. Jadi tentu saja opsi idaman ini langsung kami coret dari daftar meski sempat beberapa kali terlintas ingin nekat saja berangkat sambil berjalan-jalan ke Pulau Bali :P
  2. Rumah kakak, Jember kakak kandung saya satu-satunya (Godzilla ndut) adalah seorang bidan, dan resmi membuka praktik sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Sejak ibu saya tidak ada dia yang menggantikan semua tugas pokok per-ibu an bagi saya. Termasuk urusan melahirkan ini. Saya juga merasa akan sangat nyaman berada di rumah kakak saya yang luas, dengan 2 orang pembantu, peralatan medis yang cukup dan bersih. Dan beberapa kali saya sharing tentang konsep gentle birth yang saya pelajari dan kakak saya menyanggupi. Meski kakak saya bukan praktisi gentle birth tapi dia cukup terbuka ketika saya meminta beberapa kemungkinan-kemungkinan persalinan yang kelak akan saya lakukan. Dan ini jadi opsi utama hingga detik-detik terakhir persalinan.
  3. Rumah orang tua, Malang dari awal ini jadi opsi terakhir saya karena menurut saya kurang nyaman berada di sekeliling keluarga besar ketika kelak saya mencoba menerapkan konsep gentle birth dalam persalinan saya. Pasti akan ada banyak intervensi dan saran-saran dan masukan ini itu yang kemungkinan besar sukar saya tolak karena berasal dari bunda, tante-tante dan nenek saya. Jadi demi perdamaian dunia opsi ini kami singkirkan sementara, meski beberapa kali terpikir karena rasa sungkan juga karena protes dari bunda kenapa saya tidak mau melahirkan didampingi keluarga besar.
  4. Rumah saya sendiri, Jogja menjelang trisemester ke-3 opsi ini baru muncul karena saya pikir pasti akan lebih simple jika saya melahirkan di jogja saja, saya tidak perlu memikirkan transportasi jarak jauh untuk membawa bayi kecil saya kembali dan saya juga tidak akan repot dengan segala macam adaptasi. Beberapa kali mencoba mendatangi bidan-bidan di sekitar rumah, namun tampaknya mereka kurang welcome dengan konsep gentle birth yang saya bicarakan. Sedang dokter kandungan saya (dr.rukmono) hanya melayani persalinan di RS Hermina yang mana itu di luar budget persalinan kami :P *tetap rasional
  5. Rumah mertua, Salatiga Awalnya sama sekali tidak terpikir saya ingin melahirkan di Salatiga, dimana awal-awal perkenalan saya dengan mertua juga berjalan tidak terlalu mulus. Jadi pikiran saya pasti "akan sangat tidak nyaman" berada di sana dalam waktu lama. Tapi opsi ini muncul setelah saya mendapat kabar ada bidan praktisi gentle birth di sana dan beberapa teman saya mengenal beliau bahkan mencoba sendiri.
Saya melakukan beberapa persiapan sejak dinyatakan hamil salah satunya menjaga asupan makan saya. Mengurangi karbohidrat dan konsumsi gula berlebihan, dan menggantinya menjadi buah dan sayuran. Mengurangi makanan dengan proses goreng dan bakar, mengganti nasi putih jadi nasi merah, menghentikan konsumsi kopi saya (T_T) arief jadi polisi siaga yang tiap pagi menyeret saya untuk jalan pagi keliling kompleks / yoga prenatal, atau minimal menggantinya dengan puter-puter keliling mall baru di sebelah kantor kalau saya bangun kesiangan. Tiap minggu pagi setia menemani saya berenang dan jalan-jalan ke sunmor UGM, dia yang selalu menyemangati saya untuk selalu bergerak karena konsep utama dari gentle birth itu adalah memberdayakan diri. Menurut Arief yang belakangan saya amini juga sebenarnya konsep gentle birth ini sudah ada sejak dulu namun dikemas dengan lebih bagus dan beberapa tambahan pengetahuan baru yang mengikuti. Karena terbuki beberapa saudara dan teman yang sejak kehamilan nampak aktif, memberdayakan diri dan menjaga asupannya tetap bisa melakukan persalinan dengan lancar dengan atau tidak disertai embel-embel "gentle birth"

Comments

Popular posts from this blog

Review : MUA Khadijah Azzahra

Kehamilan ke-dua : Mengunjungi Rumah Bidan Rina di Malang

Birthing Ball / Gym Ball Untuk Ibu Hamil