Skip to main content

Kehilangan Ibu di Usia 14 tahun

Aku jarang sekali bercerita tentang hal ini secara detail, karena rasanya tidak nyaman seolah-olah aku caper dan minta dikasihani. Malam ini terbersit untuk menulis tentang hal ini terpantik oleh sebuah postingan dari salah satu sahabat baikku ketika hal ini terjadi.

Ibuku meninggal tahun 2001 di hari kamis menuju magrib, dalam ambulans menuju rujukan RS Elizabeth di Semarang karena kanker payudara. Didampingi oleh ayahku dan kakakku, aku saat itu sedang di rumah bersama tanteku yang sedang berkunjung menonton film boboho sambil menyantap sarimi goreng keriting mencoba mengambil kesempatan saat tidak ada yang melarangku memasak mie instan.

Ibuku seorang breast cancer survivor kurang lebih selama setahun. Pertama kali aku mendapati hal itu sepulang sekolah setelah jalan kaki sepanjang jalan Senjoyo yang terik, masih mengenakan seragam biru putih ibu mengajakku berbicara berdua saat itu yang kutahu beberapa hari belakangan ibu dan ayah memang sering bolak balik mengunjungi dokter dan terakhir melakukan serangkaian tes di RST Semarang. Dengan suara bergetar ibu mengabarkan jika diagnosa yang ditegakkan adalah kanker payudara. Aku segera memeluk ibu sambil menangis aku masih tidak begitu paham apa itu kanker dan bagaimana itu bekerja hanya terbersit bahwa ibuku sedang sangat sakit dan aku takut kehilangan dia seingatku aku berjanji pada ibu aku akan rajin sholat dan berdoa pada Allah agar ibu bisa sembuh.

Setelah diagnosa awal serangkaian pengobatan dan terapi menjadi rutinitas keluarga kami, akses kesehatan dan keuangan yang terbatas saat itu cukup membatasi. Ibu harus melakukan belasan radioterapi ke sebuah RS Telogorejo Semarang, yang secara tidak sengaja menjadi pertemuan ibu dengan cancer survivor lain yang ternyata adalah ibu dari teman sekelasku saat itu (dunia sangat sempit) mereka berdua bersahabat dan sering berbagi tips saat perawatan dengan aku dan temanku sebagai penyambungnya (bisa jadi salah satu bahan obrolan juga). Tubuh ibu digambar dengan menggunakan tinta permanen di area-area tertentu seperti pola jahitan baju sebagai petunjuk penyinaran. Ibu bilang rasanya tidak nyaman tapi tidak menyakitkan, lebih menyakitkan adalah bagian mamografi katanya. Ibu selalu ditemani ayah dalam proses terapi dan pemeriksaan, sesekali jika ayah berhalangan karena tugas diantar oleh sopir anggota satuan ayah bekerja (ayahku TNI btw).
    
Setelah belasan kali radioterapi dokter memantau kembali pergerakan sel kankernya dan ibu disarankan untuk melakukan operasi. Saat itu aku melihat wajah ibu mulai sering terlihat sedih. Ayah setuju dengan tindakan operasi dan menguatkan ibu untuk melakukan operasi sesuai petunjuk dokter, yang aku tahu ibu keberatan dan ingin mencari pengobatan alternatif saja. Beberapa waktu diskusi maka diambilah keputusan untuk operasi di RST Semarang, waktu operasi pertama hanya ayah yang menemani karena aku waktu itu sedang ujian dan hanya berdua dengan kakakku yg SMA. Setelah ujian selesai aku segera menyusul ibu dan menemani ibu selama seminggu di RST, jadi aku cukup ingat detailnya. Awal ibu dioperasi pengambilan sampel biopsi dan menunggu sekitar 1-2 hari dan dinyatakan bahwa kanker stadium 3B dengan tipe ganas, maka disarankan untuk mengangkat payudara bagian kirinya. Saat itu ibuku tergolek lemah menunggu operasi lanjutan sesekali menangis kesakitan dan sedih karena harus kehilangan sebagian payudaranya. Aku mencoba melakukan apapun yang kubisa untuk meringankannya, menyuapi ibu makan, mengipasi ibu agar bisa tertidur, menghalau nyamuk ganas Semarang atau sekedar mengambil tissue dan mengusap air matanya.
Operasi kedua berlangsung cukup lama sekitar 7 atau 9 jam, aku menunggu bersama ayah sambil sesekali berjalan-jalan memutari lorong, sholat dan bermain-main di taman termasuk jajan di kantin RS. Proses pemulihannya juga cukup lama, kami harus bermalam di RST sekitar seminggu lagi. Beberapa kolega sahabat ayah dan ibu datang bergantian untuk menjenguk dan memberikan berbagai macam dukungan. Ada sepasang suami istri sahabat ayah yang cukup intens menjenguk kami, selain karena lokasi rumah mereka cukup dekat mereka juga beberapa kali mengajakku keluar RS untuk sekedar makan atau membeli keperluan yang lain sambil menceritakan betapa baiknya orang tuaku sehingga mereka bisa sedekat itu.

Sepulang dari RST ibu masih harus bolak balik mengunjungi dokternya di Semarang untuk memantau kondisi lukanya termasuk melepas jahitan besar dan tebal di dada kirinya. Dari hasil pantauan dokter ibuku masih disarankan untuk melakukan terapi lanjutan yaitu kemoterapi. Saat itu akses kemoterapi masih cukup sulit termasuk harga yang harus kami bayar untuk 1 dosis sekitar 2,1 juta cukup berat bagi keluargaku. Dengan saran dari dokter ayahku menghubungi pihak Yayasan Kanker Indonesia untuk mendaftar sebagai penerima bantuan pembiayaan biaya kemo sehingga ayah cukup membayar sepertiganya. Aku lupa alasan detailnya, tapi untuk mengurus administrasi dengan yayasan dan pemberian dosis pertama dilakukan di RS di Jakarta antara RSCM atau Gatot Subroto aku lupa. Maka berangkatlah mereka berdua ke Jakarta. Namun karena waktu yang dibutuhkan untuk menunggu antrian cukup lama ayah kembali lebih dulu untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan, kemudian kembali ke Jakarta untuk menemani ibu dan menjemputnya pulang.

Kemoterapi menghancurkan ibuku secara fisik dan mental. Dengan jeda tiap dosis sekitar 21 hari terapi ke-2 dan selanjutnya bisa dilakukan di RST jadi tidak perlu ke Jakarta lagi ibuku mendapatkan 7 dosis. Setiap pulang dari terapi ibu mual dan muntah parah sekali selama beberapa hari, badannya sangat lemah, rambut di tubuhnya mulai berguguran, kuku-kuku di jarinya pun menghitam dan sebagian lepas, kulitnya kering dan kusam. Kami memilih untuk mencukur habis rambut ibu karena membersihkan helaian rambut yang rontok cukup merepotkan bagi ibu.
Cahaya di wajah ibu pun berkurang, berganti dengan tundukan sedih, lesu atau kernyitan dahi menahan sakit, sesekali kudapati ia menangis dalam diam. 
Ayah, kakak dan aku pun mulai perlahan kehilangan kesabaran dari lari maraton ini, terkadang kami menolak beberapa permintaan ibu, terkadang kami mulai bosan merawatnya, membantah jika ibu terasa rewel bagi kami, kesal dan sedih bercampur menjadi satu.

Empat bulan lebih berlalu, kemoterapi berhasil kami lalui dengan banyak kerikil di antaranya. Perlahan cahaya di wajah ibu kembali. Dokter mengkonfirmasi bahwa tubuh ibuku sudah bebas dari kanker. Ibu sujud syukur dan segera merencanakan kegiatan pengajian syukuran di rumah, kami bahagia. Ibu mulai mengoleksi topi rajut penutup kepala. Ibu yang selama hidupnya tidak suka berkumpul dengan ibu-ibu kompleks mengerubungi tukang sayur karena indentik dengan gibah, perlahan mulai membuka diri berjalan ke luar rumah nimbrung dan sekedar ngobrol dengan mereka. Kehilangan salah satu payudara dan rambut di kepala membuat ibu cukup minder, belum lagi beberapa slentingan dari orang-orang di sekitar kami tentang tampilan ibu menambah beban pikirannya. Ia mulai memilah-milah baju panjang yang nyaman ia kenakan dan akhirnya memutuskan untuk berjilbab. Sejak sakit ibu tidak aktif lagi di berbagai kegiatan persit yang selama ini selalu menjadi kegiatan utamanya sebagai pengurus. Perlahan juga ibu mulai kembali menghadiri beberapa kegiatan persit yang sanggup ia lakukan. Aku juga ingat ibuku pernah datang ke sekolahku untuk menghadiri pertemuan wali murid, dengan baju blazer gelap dan berjilbab hitam pemberian dari salah satu sahabat baiknya. Ibu tampak cantik sekali dengan polesan lipstik tipis di bibirnya.

Kami mengira badai itu sudah berlalu dan kapal kami sedang berlayar ke pulau tropis nan cerah, ternyata beberapa bulan kemudian muncul benjolan lagi di dada ibu. Menurut diagnosa dokter kemungkinan dari bentuknya ini tidak ganas, maka diputuskan untuk dilakukan tindakan operasi lagi dengan serangkaian pengobatan lainnya. setelah operasi lanjutan itu perlahan tubuh ibu semakin lemah dan sering sesak nafas. Sebelum diagnosa kanker ibu memang memiliki asma jadi kami cukup akrab dengan cerita "ibu sesak nafas" berbagai macam inhaler di rumah kami juga tersedia sebagai pertolongan pertama. Namun ini lebih terasa intens dan cukup berat tidak seperti biasanya. Hingga klimaksnya ibuku sesak nafas full selama seminggu tanpa jeda, tidak bisa tidur atau beristirahat. jadi ibu beberapa hari di rawat di paviliun DKT Salatiga, sepulang sekolah aku langsung menemaninya di rawat. Ibu meminta dirawat jalan saja dan pulang karena tidak ada perkembangan berarti. Ia pulang masih dalam keadaan sesak nafas.

Saat itu aku memelihara burung Nuri dari papua bernama Pedro, secara mengejutkan tiba-tiba lemas dan keesokan harinya meninggal. Kami sekeluarga sedih, tapi entah dari mana aku mengabari ibu bahwa dari komik yang pernah aku baca katanya jika ada hewan peliharaan yang meninggal mungkin saja sesungguhnya dia sedang menggantikan majikannya dari incaran malaikat maut (rujukan sesat: The Duck of Mr. Freward) jadi aku meyakinkan ibu bahwa ia sekarang baik-baik saja karena sudah digantikan oleh Pedro, ibu tersenyum geli mendengar aku bercerita sambil mengamini. Saat itu kakakku berada di Malang selama sebulan untuk mengikuti les persiapan masuk kuliah, jadi aku yang lebih intens menemani ibu saat sakit, yang terakhir kali kuingat tengah malam ibu membangunkanku di kamar memintaku menemaninya sambil memijat punggungnya dia berkata ia lelah, tapi aku menggerutu dan menolaknya "aku tuh ngantuk bukkk ..." sambil terkantuk-kantuk aku tetap mengusap punggungnya bete. Ibu beberapa kali berbicara "kamu sholatnya yang rajin ya, jadi anak yang baik" dan itulah obrolan terakhirku dengan ibu.
Pagi beranjak subuh kakakku datang dari Malang, beranjak siang sesak ibu semakin parah, tabung oksigen tidak membantu. Menuju sore ibu dibawa ke IGD DKT bersama ayah dan kakakku, suntikan sesak nafas dengan dosis tambahan juga tidak membantu. Dokter memutuskan untuk membawa dan merujuk ibu ke RS Elizabeth.

Menurut pengakuan ayah dan kakakku ibu berdzikir sepanjang jalan, ketika mendekati RS ibu sempat berpesan ke ayahku "aku wes gak kuat mas, titip arek-arek yo mas ..." dan ibu meninggal dalam pelukan ayahku di malam Jumat ketika ambulan memasuki halaman RS. Dan dokter yang menangani ibuku menyimpulkan jika sel kanker sudah menyebar hingga ke paru-paru yang menyebabkannya kesulitan bernafas.

Telepon rumah berdering, teman ayahku yang menelepon menanyakan kabarku, menyuruhku sholat karena sebentar lagi akan ada orang-orang yang mau membantu menyiapkan "pengajian" akan datang, tanpa mengatakan bahwa ibuku sudah meninggal. Tapi hatiku langsung mencelos, aku tau apa yang sedang terjadi ... Beberapa menit kemudian pintu rumah diketuk, saat kubuka orang-orang berdatangan sambil membawa tumpukan kursi dan tiang-tiang tenda. Reflek kuusir mereka "ini mau apa?? di rumahku gak mau ada acara apa-apa kok ... jangan di sinii ..." kataku sambil mulai terisak. Rombongan ibu-ibu mulai menenangkanku khawatir jika aku melakukan hal-hal nekat. Melihat situasi kacau segera kuusap mataku kukumpulkan kembali kekuatanku, kutepis pelukan ibu-ibu tetanggaku "maaf bulek saya belum sholat, saya mau ke kamar mandi dulu. Silahkan diatur saja bagaimana acaranya". Segera aku sholat dengan setengah nyawa masih melayang berharap ini mimpi saja, tanteku masih dalam kondisi pingsan setelah menangis histeris. Sahabat ayahku menunggu aku berdoa dan mengajakku bersiap untuk menyusul rombongan jenazah ibu. 

Bersama keluarganya aku menaiki taft 4x4 menuju Semarang. Melihat aku bengong sambil menatap bintang dari kaca jendela sahabat ayahku menyodorkan HP nya "kalau mau buat telpon atau memberi kabar pakai aja". Telepon pertamaku adalah rumah eyangku di Malang "halo uti, aku sekeluarga mau pulang besok ..." ucapan ku disambut tangisan histeris dari keluarga besarku di Malang tanpa jawaban sepatah katapun segera kututup telponnya. telpon keduaku adalah nomor sahabat yang paling dekat denganku saat itu, bahkan aku masih sangat hafal nomornya hingga sekarang "assalamualaikum icha ada tante? ... cha ... cha XXXXXX" random aku menyebut angka nomor member persewaan bukuku kemudian kututup. Selanjutnya aku menelpon sahabatku satunya "Assalamualaikum buk, ila ada? ... .... ...." aku tidak mampu bicara apa-apa akhirnya kututup. kukembalikan HP ke pemiliknya sambil mengucapkan terima kasih. Kembali kusandarkan kepala ke jendela mobil sambil menghitung bintang.

Mendekati banyumanik sahabat ayahku mendapat kabar jika ambulan dari RS sudah menuju Salatiga kami menunggu rombongan di Banyumanik, kemudian putar balik ke Salatiga beriring-iringan dengan ambulans yang membawa keluargaku dan pengawalan dari beberapa mobil militer. Suara sirine meraung-raung sepanjang jalan aku tetap diposisi semula.
Sesampainya di rumah, aku segera mencari ayahku, berhamburan lari ke pelukannya berharap akan mendapat pelukan dan kata-kata menenangkan darinya. Ayah duduk termenung di kamar tengah di tengah hiruk pikuk tamu aku segera memeluknya erat "ayaaaah ... ayaaaaaah ... ibu yaaah " tatapan matanya kosong, tangannya bahkan tak membalas pelukanku tidak ada jawaban apapun dari mulutnya. Sekeras apapun aku menangis ayah tak meresponku, tangan kakakku segera meraihku mengajakku menepi dari kerumunan kemudian berkata "ayah sedang shock berat, kita gak bisa minta bantuan sama ayah, kita yang harus bantu ayah ... nangisnya nanti aja ya, yuk ..." tangan kakakku mengamit dan mengarahkanku. Seketika aku sadar dan kembali mengumpulkan kekuatanku, akan kubantu kakakku.

Kami ikut memandikan dan menyolati ibu, menemaninya saat dibungkus kain kafan dan menempatkan dalam peti kayu karena ibu akan dimakamkan di Malang. Pukul 12 malam mobil jenazah dan iring-iringan bersiap untuk membawa jenazah ibuku. Sepanjang malam itu hanya suara sirine yang meraung-raung yang ada di telingaku. Ibu dimakamkan pagi hari sebelum sholat jumat, di dekat makam mbah buyut di bawah pohon beringin besar yang rindang dikelilingi sawah seperti yang diinginkan ibuku saat sakit “aku pingin piknik duduk-duduk di bawah pohon yang besar sambil lihat pemandangan”

Hai ibu, aku sayang dan aku kangen 💓


Comments

Popular posts from this blog

Review : MUA Khadijah Azzahra

Akhirnya ... postingan tentang review MUA Khadijah Azzahra keluar sudah. Awalnya udah ogah-ogahan ngedit draft yang satu ini. Iya pernikahan saya sudah 4 bulan yang lalu sodara, udah gak HOT lagi hahaha ... Tapi demi misi ke Barat (membantu para capeng yang kebingungan cari MUA di hari istimewanya) maka saya bongkar-bongkar lagi foto di hape lama untuk review ini cuss ...

Review : Lo han Kuo Infusion

Apa itu Lo Han Kuo?? apanya ikan lohan?? oke ini garing ... byee ... Jadi Lo Han Kuo itu salah satu jenis buah yang tumbuh di daratan Tiongkok sana, dan konon kaya dengan manfaat. Lo Han Kuo disebut juga dengan nama "Monk Fruit" atau buah biksu mungkin karena sifatnya yang mendinginkan, meredakan dan banyak manfaat itu tadi. Beberapa manfaat dari lo han kuo yang terkenal adalah sebagai : obat batuk, panas dalam, meningkatkan imun tubuh.

Kehamilan ke-dua : Mengunjungi Rumah Bidan Rina di Malang

Di minggu ke-24 kemarin saya mengambil cuti untuk mudik ke Malang bersama Seruni, sekalian untuk mencari alternatif tempat persalinan karena saya berencana untuk lahiran di Malang saja yang dekat dengan orang tua, agar Seruni ada yang menjaga saat nanti waktunya tiba. Berkunjung ke Rumah Bidan Rina Setelah pencarian singkat melalui mesin perambah kami mendapati seorang bidan yang support Gentle Birth di kota malang namanya Bidan Rina .