Long Distance Marriage : Setahun Terlewati

8 Mei 2017 tepatnya kami memulai LDM, setelah studi suami terpaksa diselesaikan karena sudah molor setahun demi bisa menemani saya dan Seruni. Usia pernikahan kami saat itu sekitar 2 tahun lebih sedikit. Dari awalpun kami menyadari resiko ini karena sebelum memutuskan menikah saya dan pacar waktu itu sudah menjalani LDR selama 4-5 tahun jadi bagi saya terasa "aaah cincailah ... udah biasa juga kan jauh-jauhan ini" tapi ternyata semua tidak berjalan se"cincai" yang saya bayangan ๐Ÿ˜….
uni bobok
Suami bekerja di salah satu kementerian di Surabaya, dan saya juga sebagai pegawai salah satu kementerian di Jogja, banyak orang bilang entah basa basi atau gimana biasanya komentar yang keluar saat tahu pekerjaan kami "waaaah enak ya dua-duanya UDAH PNS" baeklah para pembaca budiman, ternyata masih banyak yang membayangkan indahnya pekerjaan tetap sebagai abdi negara bak Adimas dan Adelia di komik Webtoon kesayangan remaja-remaja galau yang pengen cepetan nikah "Pasutri Gaje". Kenyataannya?? hajelas gak akan seindah komik itu yang selalu diakhiri dengan pelukan dan ciuman, mbeeel banget ... 
Adimas dan Adelia
Kami menikah saat suami sedang menjalani tugas belajar di kota Jogja, jadi menurut perhitungan kami hingga saatnya dia selesai dengan perhitungan masa studi 4 semester kira-kira jika langsung diberi amanah keturunan maka saat itu usia anak kita sudah di atas 6 bulan jadi saya sudah bisa cukup mandiri untuk menjalani hidup sendiri dengan seorang bayi 6 bulan. Inilah perhitangan manusia yang banyak melesetnya.
Saat saya dinyatakan positif hamil, suami berencana akan segera menyusun tesisnya sehingga saat saya bersalin dan merawat bayi dia tidak akan terganggu dengan tesis dan tinggal santai-santai ujian sembari menunggu jatah 4 semesternya kelar. Kenyataannya dia lebih banyak main sama saya dan momong anak bayi sejak lahir jadi kelupaan sama tesisnya "sama sekali" dan dengan bujuk rayu berhasil nambah jatah tugas belajar 2 semester dengan biaya sendiri (iya biaya sendiri cynnnt ... dibagi-bagi sama jatah bayar daycare, ART dan pospak bayi)

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa sejak saya kembali bekerja seruni kami titipkan ke daycare pilihan kami, dan yg bertugas penuh sebagai sopir adalah suami. Jadi pagi kami berangkat bersama, drop bayi ke daycare, drop saya ke kantor kemudian dia ke kampus. Rute pulangnya dia dari kampus, jemput bayi kemudian jemput saya ke kantor, karena itulah singgasana tuan putri berupa "carseat" gak pernah turun dari mobil mini kami.

Sebulan sebelum dia kembali bekerja di Surabaya kami sudah mencari beberapa opsi untuk kelanjutan seruni apa tetap di daycare atau dirumahkan saja. Dengan beberapa pertimbangan :
  • saya belum terlalu lancar nyetir
  • Buat nyari temen waktu malam hari di rumah
  • Ibumer yang parno banget kalo saya cuman berdua sama cucunya
  • Ibumer gak percaya sama pengasuh yang bukan saudara
maka diputuskan untuk meminta bantuan bulek dari suami untuk mengasuh Seruni, dengan bayaran tentunya. Maka sekarang kami menjalani kehidupan LDM ini dengan banyak kerikil dan huru-hara di dalamnya. Ketika pengasuh Seruni beberapa kali (dan banyak kali) mendadak molor pas mudik gak balik ke Jogja di situlah kesabaran saya diuji ๐Ÿ˜ค berbekal kemampuan nyetir seadanya saya antar Seruni ke daycare lamanya dan bayar harian yang mana jatuhnya lebih mahal, dan kejadian ini terulang terus-terusan sampai sekarang ๐Ÿ˜ญ. Setengah tahun terakhir Suami mendapat cobaan sakit yang mengharuskan dia di rawat inap sebanyak 2 kali, itu juga yang menambah daftar galau saya, karena dia membutuhkan perawatan dan menu makanan khusus yang pasti akan sulit dipenuhi saat dia ngekos di Surabaya sana. Belum lagi biaya wira-wiri kami dengan asumsi sebulan 2x PP Jogja-Surabaya dengan KA, tentu imbasnya tabungan kami tergerus sedikit demi sedikit.

Kenapa gak pindah aja? iya sebenarnya itu juga yang menjadi harapan dan tujuan kami. Ikhtiar sudah kami lakukan dengan berbagai cara, namun karena suami baru selesai kuliah maka kantornya tidak bisa melepas dia pindah begitu saja. Dan untuk saya yang pindah mengikuti suami agak riskan, karena sebenarnya kantor suami itu di Jakarta, jadi kemungkinan besar bisa saja ketika saya pindah ke Surabaya dia bisa saja mendadak pindah ke Jakarta dan itu gak lucu kan ๐Ÿ˜ช.

Sebulan yang lalu terbersit ide untuk resign saja, karena saya agak khawatir dan lebay dengan kondisi kesehatan suami apalagi melihat berat badan yang turun drastis seperti ini. Tapi kembali lagi ke paragraf awal, mana ada orang tua yang rela anaknya yg PNS resign ... dan ternyata tidak bisa ditawar lagi, titik ๐Ÿ˜ซKarena menurut saya mereka tidak membolehkan dan tidak memberikan solusi cuman sebatas kalimat "yang sabar ya ..." itu rasanya hmmm ... banget

Sekian curhatan buibu bekerja yang agak emosional dengan keadaan rumah, semoga suami saya selalu diberi kesehatan dan kami cukup sabar menjalani ini semua, amin.

_XOXO_

Comments

Popular posts from this blog

Review : MUA Khadijah Azzahra

Kehamilan ke-dua : Mengunjungi Rumah Bidan Rina di Malang

Review : Lo han Kuo Infusion