Cerita Bapak Arief : Pertama Rawat Inap di RSA UGM

Banyak draft numpuk, mari kita eksekusi satu per satu. Pada Series postingan kali ini saya mau menceritakan pengalaman kami berkutat dengan Rumah Sakit, Laboratorium, Radiologi, Internist, dll.

Sejak cerita saya di postingan sebelumnya tentang LDM kami (saya dan Arief) di sekitar bulan Oktober 2017 Arief sempat mengeluhkan perutnya sering sakit dan kembung yang kami tengarai sebagai gejala "maag" yaa maklum anak kost-an mah begitu ... males keluar cari makan, makan gak sehat, dll. Jadi saya sarankan untuk membeli obat maag cair yang biasa saya konsumsi. Hingga beberapa hari kemudian dia mengeluhkan rasa sakitnya tidak reda dengan obat tersebut dan badannya mulai demam. Saya menyarankan untuk mengunjungi dokter terdekat saja, dan dia menyanggupi. Entah malam harinya dia bercerita bahwa sakitnya tidak tertahankan di bagian ulu hati sebelah kanan, hingga dia guling-guling di kamar kost sendiri.
Keesokan paginya saya dan Seruni perjalanan ke Surabaya karena jauh sebelumnya kami sudah berencana untuk melakukan perjalanan ke Madura dalam rangka menghadiri pernikahan sepupu saya di Pamekasan.
Saya dan Seruni tiba di surabaya pukul 22.00 malam karena pesawat yang kami tumpangi mengalami keterlambatan, Arief menjemput kami di terminal kedatangan dengan muka pucat kekuningan, karena terlihat sangat lemah kami memutuskan untuk menginap di hotel bandara saja agar Arief juga bisa segera beristirahat.
Saya perhatikan memang kulit dan matanya mulai nampak semburat kekuningan. Karena kami khawatir jika merujuk ke Hepatitis maka kami sepakat untuk mengurangi kontak yang sekiranya bisa menular ke Saya dan Seruni. Dia masih menyanggupi untuk ikut ke Madura, dia bilang masih cukup kuat, ke dokternya nanti saja sepulang dari sana.
Kami menginap di Pamekasan sehari semalam, bersama ayah dan bunda saya dan malam harinya Arief mulai mengalami kolik lagi, badannya lebih kuning dari sebelumnya dan dia mengalami kesakitan di bagian perut atas sebelah kanan.
Segera setelah acara pernikahan usai kami segera pamit, dengan mengandarai mobil ayah (ayah membawa mobil dari Malang) kami menuju Surabaya. Saat itu arief masih bisa menyetir mobil hingga mendekati jembatan Suramadu, kemudian dia merasakan kesakitan lagi dan akhirnya kami putuskan untuk segera menuju IGD RS-PHC (yang terdekat dari jembatan Suramadu)
Di sana Arief mendapat beberapa pemeriksaan termasuk EKG, dan menurut dokter jaga keadaannya tidak terlalu mengkhawatirkan, dan mendapat beberapa macam obat seperti antibiotik dan pereda nyeri.
Malamnya ayah dan bunda kembali ke Malang dan saya masih menginap di Surabaya, dan hingga pagi datang keadaan Arief tidak membaik. Akhirnya kami putuskan untuk periksa kembali ke RS Husada Utama dengan mengendarai GoCar. Kami langsung menuju ke dokter spesialis penyakit dalam seperti saran dari teman Arief. Saya dan Seruni menunggu di ruang tunggu anak-anak agar dia tidak bosan. Internist di RS Husada Utama juga mendiagnosa suspect gangguan hati-empedu maka perlu dilakukan pengecekan lanjut melalui laboratorium, tapi kami hanya meminta surat rekomendasi saja karena kami berencana melakukan di Jogja saja, dan Arief segera mencari tiket pesawat yang sama dengan saya dan Seruni agar bisa pulang bersama-sama.
Sesampai di Jogja Arief mengunjungi Faskes pertama JKN kami yaitu dokter keluarga yang dekat dengan rumah kami, di sana ternyata yang ada dokter umum pengganti karena dokter yang seharusnya sedang menjalankan ibadah haji, diagnosanya juga sama dengan saran : mengurangi konsumsi obat-obatan karena akan semakin memperberat kerja hati untuk menyaring semua obat yang diresepkan oleh RS semula, dan diberikan rujukan ke dokter spesialis penyakit dalam di RS tingkat lanjutan, dan kami memilih RS UGM yang secara jarak paling dekat dan antrian yang tidak terlalu menyiksa.
Keesokan harinya Arief melakukan pemeriksaan di RS UGM dengan dokter spesialis penyakit dalam yang dia pilih berdasarakan "antrian yang paling sedikit", dilanjut dengan USG, cek darah dan urin, dan anehnya sebelum hasil lab keluar dia sudah pulang dengan segepok obat-obatan lagi dengan surat keterangan untuk istirahat, hasil lab keluar keesokan harinya.
Keesokan harinya sepulang kerja saya mampir ke lab RS UGM untuk mengambil hasil lab dan betapa kagetnya saya ternyata didapati SGOT dan SGPT yang sangat jauh dari normal hingga menembus angka ribuan. Keadaan Arief di rumah-pun tidak membaik tetap pucat kekuningan dan demam padahal surat ijin istirahatnya sudah hampir habis. Keesokan harinya kami pergi ke RS UGM lagi untuk meminta perpanjangan surat istirahat dan menemui dokter peny. dalam untuk berkonsultasi tentang hasil lab kmrn yang kami yakin belum dia baca/ketahui. Daaaan ... ternyata drama dimulai.
Petugas front office mengatakan kalau kami tidak bisa menggunakan jalur JKN karena kunjungan ini di luar yang sudah dijadwalkan oleh dokter. Dengan tubuh yang sudah sangat lemah dan mengurangi debat kusir Arief memutuskan untuk menemui bagian humas untuk mengajukan keluhan. Di sana kami ditemu oleh petugas humas, kami sampaikan keluhan terhadap pelayanan dan alur dari pemeriksaan dokter yang begitu saja mendiagnosa tanpa melihat hasil lab dengan memberikan segepok obat. Di sana kami diarahkan untuk mengisi surat keluhan beberapa lembar, dengan banyak pertanyaan, dan petugas tersebut berjanji akan meneruskan keluhan kami ke pihak manajemen. Kami keluar dari RS pukul 11 siang dan segera kembali ke rumah agar Arief bisa segera beristirahat kembali.
Sekitar pukul 14.00 Arief dihubungin pihak RS UGM via telpon, katanya berdasarkan hasil lab yang baru saja "diperiksa" oleh dokter peny. dalam tersebut maka kondisi Arief dinyatakan gawat darurat dan dipersilahkan untuk dirawat inap saat itu juga. Sejak siang itu Arief dirawat inap sekitar 5-7 hari saya lupa tepatnya. Saya hilir mudik antara RS dan rumah karena saat itu saya masih menyusui Seruni. Seruni saya tinggal di rumah bersama bulek. Di rawat di RS UGM keadaan Arief membaik SGOT dan SGPT juga turun menuju angka normal, dia didiagnosa dengan "batu empedu"
Sepulang dari RS pengobatan Arief dilanjutkan dengan mengkonsumsi obat yang harus dia minum setiap hari untuk memecah "batu empedu" yang ada.
Well ... jungkir balik, hilir mudik pengalaman ini sangat berharga bagi kami, betapa kesehatan dan keluarga itu sangat mahal harganya. Dan harapan kami bahwa ini cukup sampai di sini saja.

Comments

Popular posts from this blog

Review : MUA Khadijah Azzahra

Kehamilan ke-dua : Mengunjungi Rumah Bidan Rina di Malang

Review : Lo han Kuo Infusion