Kehamilan ke-dua : Plasenta Previa I

Kembali ke Jogja setelah mudik berdua dengan Kembang Seruni untuk menyurvei Rumah Bidan Rina. Meski mendapat pesan sponsor untuk memantau perkembagan dari letak plasenta saya masih cukup tenang dan santai, karena yakin kalau saya tidak pernah mendapat tanda-tanda seperti flek atau pendarahan, hanya memang stamina dan nafas saya lebih kacau dari kehamilan sebelumnya.

Kehamilan ke-dua
Seminggu kemudian tibalah jadwal rutin bulanan untuk periksa ke dokter Rukmono. Yups sejak kehamilan pertama saya madep mantep hampir selalu priksa kandungan ke dokter Rukmono, selain karena sugesti saya memang cukup sreg dengan metode pemeriksaannya dan alur penegakan diagnosa, prosedur, dll. Kalau masalah komunikasi yaaa ... memang kadang kalo pas selo pak Rukmono bisa diajak ngobrol ngalur ngidul, sampai hal-hal remeh saja bisa saya ceritakan, dan sangat detail ketika memeriksa USG. Yepp menurut cerita dari beberapa SPOG lainpun mengakui keakuratan hasil baca USG dokter Rukmono yang termasuk senior subspesialis fetomaternal di Jogja. Saya memilih untuk periksa rutin di apotik Aulia saja yang sekiranya harganya lebih terjangkau dari di RS Hermina tempat beliau praktik, meski sebenarnya dia adalah dokter dan direktur medik di RS Sardjito juga. Kekurangannya hanya satu yaitu "antriannya" πŸ˜‚

Tapi saat ini cara antriannya sudah berbeda ketika kehamilan pertama saya, jadi ketika sudah sekali terdaftar, maka akan otomatis terdaftar rutin setiap bulan, kita akan diingatkan via SMS jadi kita hanya cukup konfirmasi kehadiran saja. Untuk mendapatkan antrian pertama ini di bulan pertama saya gagal sampai akhirnya menyerah saya periksa ke RS lain. Setelah mencoba menelpon RS Hermina Jogja untuk antri saya mendapat antrian untuk 2 bulan berikutnya πŸ˜ͺ

Kemudian ketika kakung Kembang Seruni sedang berkunjung ke Jogja saya minta tolong untuk antri dari mulai jam setengah 5 pagi, setelah sholat subuh barulah kami mendapat antrian untuk periksa malam harinya di Apotik Aulia, seminggu beliau hanya membatasi 15 pasien, dan rata-rata 10 orang adalah pasien lama, jadi kesempatan untuk pendaftar baru di minggu tersebut hanya 5 orang (sudah termasuk yang urgent).

Malamnya saya antri seperti biasa setelah konfirmasi, dan syukurlah malam itu Arief bisa menemani, jadi sorenya dia pulang dari Surabaya untuk menemani saya periksa. Biasanya saat masuk dokter akan menanyakan Seruni terlebih dahulu "Uni mana?"dan bercanda sebentar dengan Seruni, beliau cukup ramah dan detail menanyakan hal-hal pribadi seperti ini yang menurut saya juga merupakan poin plus jadi kami merasa dekat dengan beliau, tapi kali ini berbeda di depan pintu saya disambut "mbak ... ini berat badannya kebanyakan ... mosok sebulan naik 4kg, besok dikurangi ya jangan makan gorengan dulu" bikin saya keki senyum dikulum sejak awal masuk ruangan πŸ˜ͺ. Dilanjutkan dengan pertanyaan singkat, keluhan, dll saya mengeluhkan nafas yang sesak, kemudian beliau mempersilahkan untuk naik ke bed untuk di USG. awal mengecek fundus bagian atas beliau memang mengatakan "iya ini tinggi sekali letaknya pantesan sesak, nanti coba tak geser" beliau ini juga terkenal punya tangan sakti yang bisa menggeser letak kandungan, entah gimana prosedurnya yang pasti saya juga hanya dengar slentingan-slentingan yang beredar saja. Saya cukup lega karena jika benar bisa terbantu dengan re-lokasi kandungan agar tidak sering sesak nafas. Namun ketika alat diarahkan ke bawah perut komen beliau berubah "hmm ... ini plasentanya di bawah ya, gak berani ini kalau mau digeser-geser bisa pendarahan." JEGLERR ... seketika saya speechless cuman terlontar "total gak dok? bisa normal kan?" "kalau lihat posisinya dan penampakannya ini sepertinya permanen, gak papa kok nanti dibuka aja (SC) sama aja kok" saya cuman bisa pucat menatap nanar layar USG. Sesi USG sudah selesai dilanjutkan dengan konsultasi ringan "tapi saya juga gak pernah flek-flek kok dokter, jadi masih bisa geser kan ya?" "yaaa kalo bisa memang jangan sampai flek-flek dulu bu, dijaga ya ... biasanya mulai bermasalah kalau di atas 32 minggu nanti pas janin mulai besar" kemudian dilanjutkan pertanyaan-pertanyaan bodoh saya yang masih kekeuh minta dukungan moril kalau saya tidak apa-apa πŸ˜”dan jawaban dari pak Rukmono sebenarnya cukup menenangkan hanya sayanya aja yang kebingungan dengan pikiran-pikiran aneh keluar ruangan dengan lunglai dan mata berkaca-kaca. Arief yang memahami batapa shock dan sedihnya saya sesekali berucap "gak papa ... kan masih ada waktu, nanti kita cari opsi lain ya ... gak papa kok"

Akhirnya kami segera pulang saja mengingat Seruni sudah mengantuk dan nafsu makan saya sudah hilang sejak di ruangan dokter tadi, padahal sebelumnya kami berencana untuk makan malam di luar.

Comments

Popular posts from this blog

Review : MUA Khadijah Azzahra

Kehamilan ke-dua : Mengunjungi Rumah Bidan Rina di Malang

Review : Lo han Kuo Infusion