Kehamilan ke-dua : Plasenta Previa II



Melengkapi postingan yang sudah terlewat 2 tahun yang lalu, karena lama sekali tidak membuka akun blogger saya. Ternyata cukup banyak yang bertanya tentang proses persalinan dengan plasenta previa (letak plasenta di bawah) sebenarnya jenis plasenta previa ini banyak dibagi menjadi 4 tergantung dari letaknya, dan yang saya alami kemarin adalah plasenta previa totalis yaitu jalan lahir bayi tertutup semua oleh plasenta bayi. Jujur saya pribadi cukup terkejut dan down, kemudian suami memberi banyak support dan menenangkan. Jadi setelah melewati masa-masa terkejut maka kami memulai usaha lainnya sebagai bentuk ikhtiar yaitu mencari opsi ke-3 ke-4 dan ke-5.

Sembari menyiapkan resiko jika memang harus melahirkan secara SC maka kami mulai mendatangi klinik keluarga untuk menggunakan BPJS jika memang nanti tiba-tiba dibutuhkan. Dari klinik keluarga kami dirujuk ke RS Sakina Idaman, dan kami memilih untuk konsultasi dengan dr. Nizar Hero Kartika, M.Kes, Sp.OG. Dokternya ramah, dan penjelasan yang diberikanpun cukup lengkap. Termasuk kondisi plasenta previa saya yang memang plasenta previa total (jadi menutup sempurna jalan lahir). Beliau juga menjelaskan "kalau sudah pak rukmono (dokter sebelumnya) yang analisa usg pasti akurat karena beliau salah satu dokter fetomaternal terbaik". Dengan menata hati kamipun sudah cukup ikhlas dengan kondisi tersebut dan melakukan saran-saran dari dokter yang boleh dan tidak boleh dilakukan karena termasuk kondisi rawan.

Saya mulai membicarakan kondisi kehamilan saya dengan atasan saya, jadi pekerjaan yang biasanya mengharuskan saya sering bolak-balik dinas luar bisa saya minimalisir. Saya juga menghubungi doula Arifatun, kami ngobrol cukup lama tentang kondisi saya dan meminta secara pribadi untuk mendampingi saya melahirkan nanti meskipun harus lewat SC, ternyata mbak Ari berhalangan di tanggal HPL saya karena harus pergi ke Belanda untuk jangka waktu yang cukup lama. Saya mulai mencari alternatif doula lain tapi belum dapat juga. Mbak Ari juga menyarankan saya untuk tidak melakukan prenatal yoga dulu hingga usia kehamilan aman karena dengan letak plasenta di bawah akan sangat mudah pendarahan.

Dengan tetap pemeriksaan kehamilan rutin ke dokter Rukmono saya melalui hari-hari kehamilan yang lumayan berat menurut saya dibanding dengan kehamilan sebelumnya. Tubuh saya lebih cepat lelah, nafas ngos-ngosan, termasuk kondisi anak pertama dan suami yang sempat dirawat di RS cukup lama mempengaruhi kondisi psikologis saya. Dengan desakan dari ayah saya jika harus melakukan persalinan SC beliau sreg jika dilakukan oleh dokter Rukmono saja, yang mana praktik dokter Rukmono yang paling memungkinkan saya bisa ditangani langsung oleh beliau adalah di RS Hermina (tidak bisa menggunakan bpjs) setelah survey harga ya lumayan banget kalau menggunakan kamar kelas 1 atau VIPnya, sambil nengok tabungan yaudahlah kita sisihkan saja untuk persiapan, karena jujur saya pribadi juga lebih sreg ditangan dokter Rukmono.
Hingga di suatu hari saya bernadzar disaksikan oleh Arief "kalau Allah masih mengijinkan aku melahirkan pervaginam, aku dan bayi sehat dan selamat uang yang semula kita tabung untuk biaya SC akan digunakan untuk bla bla bla saja ya??" awalnya Arief masih ragu-ragu meng-iyakan tapi lama-lama dia iyain aja biar cepat 😋

Di trisemester 3 saya juga sudah menjadwalkan kapan waktu yang pas untuk SC disesuaikan dengan jadwal dokter Rukmono yang sangaaaat sibuk karena mendekati hari raya juga jadi kita cari waktu yang kira-kira pas aja (sambil berkali-kali nengokin saldo rekening :'D mudah-mudahan cukup Ya Allah) demi penghematan saya sengaja tidak membeli barang bayi apapun, nanti aja setelah lahir biar ketahuan berapa sisa uangnya yang bisa dibelanjain, kalau baju sehari-hari masih bisa pakai bekas Seruni yang mulai saya sortir dan cuci ulang. Plus satu persiapan penting lagi yaitu mencari pengasuh calon bayi, karena hidup sendiri di Jogja dengan 2 balita sunggu saya merasa tidak sekuat dan setangguh itu :'D
membayangkan wira-wiri ke 2 daycare ke kantor PP belum termasuk pekerjaan kantor dan urusan domestik lain sudah bikin saya capek duluan. Dengan tetap survey daycare untuk newborn sebagai alternatif cabangan saya juga mulai menitip info lowongan pengasuh bayi ke teman-teman dan kenalan termasuk mengantongi kontak beberapa yayasan penyalur. 

Memasuki minggu ke 35 pemeriksaan kehamilan dilakukan 2 minggu-1 minggu sekali dan kuasa Allah sungguh di luar prediksi manusia, ternyata dari hasil USG di akhir-akhir minggu tersebut memperlihatkan letak plasenta bergeser sedikit demi sedikit (beneran bikin terharu) hingga di minggu ke38-39 dokter rukmono menyatakan letak plasenta saya aman dan sehat untuk melakukan persalinan pervaginam "Allahu Akbar ..." beliau juga mempersilahkan saya untuk melahirkan dimanapun yang sekiranya saya nyaman.

Kamipun mendatangi bidan Mugi dan bidan dekat rumah sebagai pilihan alternatif I dan II karena saya tetap lebih nyaman bersalin didampingi oleh bidan saja jika memang kondisi sehat dan aman. Jika nanti kontraksi saya sangat intens dan sekiranya tidak bisa menempuh jarak yang sangat jauh ke Bidan Mugi maka saya memilih untuk bersalih di bidan dekat rumah saya saja. Saya-pun memundurkan surat ijin cuti saya sesuai HPL agar bisa maksimal menemani calon bayi saya nanti. Aalhamdulillah Arief-pun diperbolehkan mengambil cuti besar dengan alasan kondisi kesehatannya yang membutuhkan waktu istirahat dan pemeriksaan lebih intensif. Allah Maha Baik ...

Comments

Popular posts from this blog

Review : MUA Khadijah Azzahra

Kehamilan ke-dua : Mengunjungi Rumah Bidan Rina di Malang

Review : Lo han Kuo Infusion