Commitment


Kalau boleh cerita, kelanjutan dari kisah persiapan pernikahan alakadarnya ini sudah sampai H-9. Dan baru detik ini saya agak berfikir dalam, lebar, luas kali tinggi. 9 hari lagi saya bakal dinikahkan oleh ayah saya, yang memindah tugaskan tanggung jawabnya kepada laki-laki yang bakal jadi imam saya, guru saya, dan teman hidup saya. Oh mai gat saya kemana aja baru mikir-mikir yang bginian ...
Kalaulah kemarin-kemarin saya cukup enjoy santai dan tenang karena saya selalu pakai jurus pamungkas untuk menenangkan diri "Elis, game ini udah stuck. Kamu harus naik level buat mecahin mission lain dan menjelajahi environtment baru"

Tp di H-9 saya baru ngerasain seperti ada gelembung2 kecil di perut, gak tenang ... gak nyaman ... trus bikin saya mikir : gimana kalau besok-besok saya gak bisa memecahkan missions baru itu? Gimana kalau environtment baru ternyata gak cocok? Gimana kalau patner yang saya kira sudah saya kenal ternyata mengecewakan? dan yang paling menakutkan buat saya adalah GIMANA KALAU PERNIKAHAN INI AKAN MENJAUHKAN SAYA DARI TEMAN-TEMAN?? :'(
Saya bisa seminggu/sebulan pun gak sms an atau chat sama pacar tapi itu gak berlaku buat teman. Hidup saya itu selalu dikelilingi banyak orang, banyak kepala, banyak mulut, asik dan rame. Teman yang saya butuhkan selalu ada disekitar saya, ketika saya sedih mereka yang menghibur, ketika saya bahagia mereka juga ada sambil tersenyum lebar. Sedangkan besok semua peran itu akan diambil alih oleh satu orang saja, orang terdekat saya dan patner hidup saya itu.


Flashback ... selama pacaran 4 hampir 5 tahun ini, saya dan pacar jarang menemui konflik yang berat. Sekedar debat kusir untuk hal-hal yang perlu dikomentarin biasalah, paling dibumbui selorohan dan sindiran-sindiran satire. Tapi saya hitung beberapa kali ada hal yang bisa membuat pacar saya itu agak "naik darah" mungkin karena cara komplain saya yang gak bagus, tapi dari dua kali yang saya ingat dia sampai meninggikan nada bicaranya pasti karena saya komplain tentang "ibu"nya.
Yaa bisa dibilang masalah klise lah hubungan menantu dan mertua perempuan pasti pelik, ibarat istana yang gak bakal bisa dipimpin 2 orang ratu yang berbeda, dan semacam itulah.
Tapi hingga detik ini jujur saya memang masih belum bisa menerima dengan hati lapang dan terbuka atas beberapa sikap calon mertua saya itu, saya belum menemukan titik dimana kira-kira kami suatu hari nanti bisa akur dan akrab, saya juga tidak berani memimpikan itu, berharap tidak terjadi percikan dan cukup dengan jalan menghindar mungkin menjadi pilihan paling masuk akal buat saya sekarang.
Saya masih dihantui dan dibayang-bayangi oleh hubunga mertua-menantu dari rumah tangga kakak kandung saya si "godzilla ndut" yang notabene sangat dekat, sehingga semua keluh kesah dan curhatannya pasti lari ke saya.

Berharap bisa menemukan setitik terang harapan pada lembaran baru saya 9 hari ke depan ... saya buka-buka blog dari sahabat baik saya yang membahas tentang "dia & pernikahan" di sini tulisan ini dia buat beberapa hari sebelum dia menikah. Awalnya kami memiliki pemikiran yang 11-12lah tentang wanita, rumah tangga, pernikahan, pendidikan, dll namun dia ternyata lebih dulu berani untuk mencoba pelajaran baru, yang dia tuangkan dalam blog tersebut.

Semoga saya juga segera menemukan kemantapan dan ketenangan hati, 

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ 
by the remembrance of Allah hearts are assured  (Ar-ra'd : 28)

Comments

Popular posts from this blog

Review : MUA Khadijah Azzahra

Kehamilan ke-dua : Mengunjungi Rumah Bidan Rina di Malang

Birthing Ball / Gym Ball Untuk Ibu Hamil