Baby Blues Syndrom : Been There!

Semua terasa sempurna bak alur cerita FTV di layar kaca. Saya menikah sesuai rencana , hamil nyaris tanpa halangan berarti, melahirkan dengan nyaman, mendapati bayi mungil nan manis ada di pelukan saya.

Semua terasa indah berbunga-bunga, kalau bisa di visualkan layaknya film animasi mungkin ada kelopak mawar bertebaran di sekeliling saya. Hingga hari pertama saya pulang dari klinik ibu alam pun saya masih bahagia. Hingga malam pertama saya di rumah mertua semua berubah.
Tamu-tamu mulai berdatangan, entah mereka siapa ... saya sudah tidak bisa memfokuskan pikiran untuk menemui mereka satu persatu. Satu rombongan .... terdiri beberapa orang, demikian selanjutnya hingga dua tiga rombongan. Saya memilih untuk tetap di kamar bersama bayi saya. Suami juga sudah mengetahui gelagat ketidaknyamanan saya, dia yang berjaga di luar menemui semua menjawab semua pertanyaan basa-basi "cowok apa cewek? beratnya berapa? panjangnya berapa? lahiran di mana? normal apa SC? jahitan berapa?" dan semua komentar lanjutannya termasuk tentang ASI, endebrey endebrey. Meski suami sudah pasang badan di luar kamar tapi tidak menghalau mereka untuk menemui saya dan bayi secara langsung. Mereka menerobos masuk ke dalam kamar. Sebagai orang jawa yang dituntut menghormati orang tua, tentu ini tidak bisa kami tolak. Jangankan untuk menganjurkan mereka mencuci tangan atau memakai hand sanitizer yang sudah saya persiapkan, mereka sibuk mencerca saya dengan bermacam pertanyaan. Lebay mungkin kalau saya gambarkan perasaan saya waktu itu saya seperti Harry Potter yang dikejar-kejar dementor. Tamu-tamu yang sibuk menghujani berbagai pertanyaan dan komentar ini itu cuman saya ingat seperti bayangan hitam yang menyedot semua kebahagiaan saya.
Setiap satu rombongan pulang, saya memeluk suami sembari terisak, saya tidak bisa tidur, dan bayi saya masih disorientasi waktu dia terus menangis semalaman hingga subuh di pangkuan saya.

Hari ke-3 bayi saya mulai nampak kuning, suhu badannya naik, setelah kami konsultasi ke bidan dan dokter dia kekurangan cairan, dan yang terasa menyakitkan payudara saya mulai "merangkaki" bengkak keras seperti kelapa, dan sakitnya luar biasa, saya panik. Saya meminta ASIP dari teman saya setengah botol untuk berjaga-jaga saja paling tidak menenangkan kegalauan saya.
Pukul 03.00 dini hari bayi saya menangis kencang, hingga seluruh rumah terbangun. saya yang kelelahan, bingung tidak bisa menenangkannya seperti biasa, bayi saya menolak menyusu, kakak ipar saya datang dari jogja entah karena ditelpon mertua saya atau memang ada urusan lain. Kakak ipar saya menawari untuk menyusui bayi saya. Awalnya saya menolak "Gak usah, aku bisa kok nyusuin" tapi bayi kecil saya tetap meraung-raung dan menjerit menolak puting saya. Akhirnya kakak ipar saya menawari lagi untuk menyusui si kecil, dan saya lepaskan bayi saya dari gendongan. Saya berikan bayi saya untuk disusui di kamar, kemudian keluar ke ruang tamu dan ... hening, bayi saya berhenti menangis dia tertidur dalam susuan kakak ipar saya ... dia lapar. Saya berurai air mata, sibuk menyalahkan diri, bahwa saya tidak becus menjadi seorang ibu, bahkan menyusui pun saya gak mampu. Suami saya mengajak saya keluar rumah, saya menolak. Akhirnya setengah memaksa dia mengambilkan jaket dan kerudung untuk saya, kemudian menggandeng tangan saya keluar.

Kami berjalan kearah jalan raya, sejak saya kembali dari klinik baru kali itu saya melihat jalan raya kembali. Bahkan meninggalkan bayi saya untuk ke kamar mandi pun saya khawatir setengah mati. Suami saya mencoba memulai pembicaraan ringan "nanti kamu mau pijet atau spa? nanti biar seruni sama aku aja di rumah gak papa" saya cuman menggelang ringan. Dia memulai pembicaraan yang lain dan saya hanya menimpali satu dua kata, hingga dia menawarkan "kamu butuh teman bicara? atau orang lain yang lebih profesional mungkin?" lagi-lagi saya cuman menggelang, saya peluk suami saya dan kembali menangis tersedu-sedu "aku kok gak bisa nyusuin adek ..."
Setelah saya mulai tenang suami saya mulai menenangkan saya, bahwa saya sudah melakukan yang terbaik, bahwa adek baik-baik saja, semua akan baik-baik saja, kita hanya butuh waktu adaptasi, dan jika saya merasa butuh pertolongan tenaga profesional (psikiater) dia akan mencoba mencarinya.

Sejak kejadian itu suami saya sering menghubungi teman saya caesar ucil agar bisa berkunjung dan menemani saya mengobrol di siang hari ketika bayi kami lebih banyak tertidur. Bagi saya siang hari adalah waktu istirahat, namun saya tidak bisa benar-benar tertidur hanya terlelap beberapa menit... segalam macam pikiran campur aduk di otak saya. Nafsu makan saya menururn drastis, saya tidak merasa lapar.
Setiap matahari mulai tenggelam ketakutan saya kembali datang, tiba-tiba saya menangis tersedu-sedu "Ini adalah titik terendah dalam hidupku, aku takut malam datang, aku takut adek nangis, gak mau begadang sampe pagi lagi, aku takut semuanyaaa ..." Saya baru bisa tenang dan tertidur ketika suami saya menggenggam tangan saya, dan mengatakan "semua baik-baik saja, saya sudah melakukan yang terbaik" bahkan beberapa kali dia menawari untuk kembali ke klinik ibu alam saja, ngumpet di sana sampai saya tenang, setidaknya kita gak perlu nerima kunjungan dan tamu :D begitu terus menerus hingga usia bayi kami 2 minggu dan kami memutuskan untuk kembali ke Jogja lebih cepat, karena serbuan tamu-tamu yang berdatangan itu membuat hati saya semakin ciut.

Di rumah kami, sedikit demi sedikit kondisi saya membaik, saya tetap meminimalisir kunjungan dengan tidak memberi kabar siapapun bahwa saya sudah kembali. Saya malu untuk bertemu dengan siapapun. Wajah saya, badan saya semua terasa sangat jelek dan tidak seperti saya sebelumnya, saya merasa tamu-tamu yang datang nanti akan mencibir saya. Saya takut mereka membanding-bandingkan bayi saya dengan bayi lain. Saya juga mulai sangat tertekan dengan produksi ASI saya, berat badan bayi saya kurang dari yang seharusnya, target stok ASIP yang saya patok karena terlalu banyak mengikuti postingan social media orang lain, semua itu menambah beban pikiran saya. Ya saya memang kurang ilmu "per-asi-an". Ekspektasi saya terlalu tinggi karena saya bisa melalui hampir semuanya dengan baik dan lancar dan di situlah Tuhan mengingatkan kejumawaan saya.

Ketika usia bayi saya 2 bulan saya mulai bekerja kembali, ritme saya sudah mulai teratur dan kondisi psikologis saya perlahan membaik, produksi ASI saya perlahan lancar, bahkan lebih dari cukup. Ketika inilah saya mencoba melihat kebelakang dan menyadari apa yang saya alami kemarin adalah "Baby Blues Syndrom".

Yapp kita kerap mendengarnya ... tapi mungkin kurang mengerti dan waspada. Saya sangat bersyukur diwaktu-waktu terberat saya suami saya ada di sana, menggandeng tangan saya, memeluk saya, dan memberikan apresiasi atas semua yang sudah saya lakukan dan berikan. Suami saya mungkin lebih memilih mengurus saya terlebih dulu baru kemudian bayi kami, karena menurut dia ketika saya "sehat" otomatis bayi kami akan terurus juga.
Mungkin bagi lingkungan dan kultur kita "Baby Blues" ini terdengar mengada-ada dan hanya bualan para ibu muda yang manja "nenekmu, budhemu, ibumu, tantemu punya anak banyak, tapi gak setres kayak gitu juga", "jadi ibu itu ya memang kayak gitu" bahkan teman sebelah meja saya juga berkomentar "anak-anak sekarang itu manja ya ... sampe ada istilah baby blues segala" see ... lingkungan kita masih menganggap kejadian seperti yang saya alami itu mengada-ada. Padahal kita hanya ingin dipeluk, didengarkan, diapresiasi atas segala upaya yang kita lakukan. Tidak perlu menyalahkan ... karena setiap orang tua pasti mencoba memberikan yang terbaik untuk anaknya. Yang saya rasakan saat itu adalah saya tidak layak jadi orang tua, karena saya jauh dari standar-standar orang tua ideal seperti yang tamu-tamu saya bicarakan, atau yang mereka sarankan. Kemudian saya merasa bayi saya tidak bahagia saya lahirkan, karena dia menangis terus menerus (orang disekitar saya waktu itu pasti selalu heboh ketika bayi saya mulai menangis dan sibuk berkomentar dan memberi saran ini itu) padahal yang saya tahu sekarang "yaaa namanya bayi pasti nangis, kalau dia bisa ngomong malah aneh :P" bayi masih butuh adaptasi karena selama ini dia tinggal di tempat yang sangat hangat dan nyaman. Dan ketika ibu panik si bayi bisa merasakannya dan akan ikut panik juga. Cara paling efektif menurut saya adalah, letakan bayi sebentar, atau minta bantuan orang terdekat berjalan menjauh, tenangkan diri ... ketika emosi sudah bisa dikuasai silahkan ambil kembali bayi anda.

Hingga saat ini saya masih belum sepenuhnya bisa menghilangkan trauma saya, jika saya berlibur kerumah mertua saya dan tidur di kamar yang dulu pernah kami tinggali, dengan warna cat dan lampu rumah yang redup temaram, ketika saya memejamkan mata saya masih bisa membayangkan rasanya ada banyak dementor di sekitar saya. Yaaa lebay mungkin ... tapi saya juga butuh waktu untuk pulih.

Comments

Popular posts from this blog

Review : MUA Khadijah Azzahra

Kehamilan ke-dua : Mengunjungi Rumah Bidan Rina di Malang

Review : Lo han Kuo Infusion